Memancing Harapan

(Foto : net/klik)

Oleh: Almin Hatta

BEBERAPA temanku sangat suka memancing. Memancing dalam artian harfiah. Ya, mancing ikan sesungguhnya, baik di sungai, di laut, di empang, atau pun di air dangkal persawahan.

Jika beroleh banyak ikan, mereka tentu saja sangat gembira. Tapi, anehnya, kalau pun ikan yang diperoleh tak seberapa jumlahnya dan bahkan terkadang tak beroleh ikan seekor pun jua, mereka tetap saja ceria.

Karena itu aku jadi bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat begitu banyak orang suka mancing sampai seharian lamanya. Padahal, hasilnya jelas tak seberapa. Tak sebanding dengan sedemikian banyak waktu yang terbuang percuma. Bahkan terkadang tak sebanding dengan banyaknya biaya yang dikeluarkan.

Satu hal yang pasti, kegiatan mancing boleh dilakukan siapa saja. Tempat mancing pun suka-suka. Mau di sungai, di danau, atau di laut luas sana, silakan saja. Cuma satu larangannya, jangan sekali-kali mancing di empang atau keramba. Sebab pemiliknya pasti marah, dan salah-salah Anda akan pulang dengan tubuh berlumuran darah.

Kalau saja pemilihan kepala daerah alias pilkada bisa pula dilakukan sebagaimana halnya kegiatan mancing yang suka-suka, pastilah akan banyak orang yang mencalonkan dirinya untuk menjadi gubernur, bupati, atau walikota.

Kalau saja orang per orang boleh mencalokan diri sebagai gubernur, bupati, atau walikota, tanpa harus terkait parpol dan segala persyaratan lainnya, pastilah KPU akan kelimpungan dibuatnya. Soalnya, pasti akan banyak sekali orang yang mencalonkan dirinya.

Soalnya, sebagaimana halnya mancing ikan, maka pertarungan dalam pemilihan kepala pemerintahan adalah hal yang mengasyikkan. Di sini, lagi-lagi sebagamana halnya memancing ikan papuyu atau tenggiri, ada kegiatan adu kepiawian yang sangat tinggi. Mulai dari kecermatan memilih umpan yang disukai sasaran, sampai kelihaian menentukan saatnya menarik joran agar ikan benar-benar tersangkut di mata pancing.

BACA JUGA :  Ada Kelonggaran untuk Peserta Ujian CPNS dari Luar HSS

Kegiatan mancing bahkan mirip dengan perjudian. Umpan yang dipertaruhkan lebih sering hilang begitu saja ketimbang disantap ikan. Pertarungan dalam perebutan pimpinan pemerintahan pun tak beda. Ada banyak uang yang dipertaruhkan, bahkan termasuk nama yang bersangkutan, sementara kesempatan untuk menang cuma sepersekian.

Tapi intinya bukanlah mengenai dapat tidaknya ikan sepat atau hiu raksasa, bukan pula soal kalah atau menang dalam pilkada. Intinya adalah: umpan dilemparkan, lalu orang yang bersangkutan punya harapan.

Ya, cuma harapan. Harapan dapat ikan bagi pemancing kawakan. Harapan menjadi gubernur, bupati, atau walikota, bagi yang ikut pilkada.

Apa iya cuma harapan? Silakan saja bagi yang mau meragukannya. Tapi, yang pasti, kehidupan seseorang hanya akan bisa berkelanjutan jika yang bersangkutan masih menyimpan harapan di hatinya yang terdalam. Tentu harapan mengenai apa saja, baik soal dunia, terlebih yang menyangkut kehidupan abadi di surga.***