2.531 Rumah Terdampak Banjir di Pengaron, Tapi Baru 7 Unit yang Terdata Rusak

klikkalimantan.com, MARTAPURA – Berdasarkan data pada Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, tercatat sebanyak 2.531 unit rumah dengan jumlah 3.278 Kepala Keluarga (KK) di 8 desa terdampak bencana banjir.

Ke-8 desa tersebut adalah Desa Pengaron, Ati’im, Antaraku, Mangkauk, Lobang Baru, Lumpangi, Lok Tunggul, dan Desa Benteng. Semuanya di Kecamatan Pengaron.
Dari 8 desa tersebut, sejauh ini baru terdata sebanyak 7 unit rumah rusak akibat terdampak banjir. Rinciannya, di Desa Lok Tunggul terdata 2 unit rumah ambruk atau rusak total. Kemudian 5 unit rumah rusak di Desa Benteng.

“Satu unit rumah rusak total di RT 05 Desa Benteng. Sebanyak 4 unit rumah lainnya rusak pada bagian dapur saja. Jadi, untuk rumah rusak total di Kecamatan Pengaron karena diterjang banjir berjumlah 3 unit,” kata Wahyudi Rahmat, Sekretaris Camat (Sekcam) Kecamatan Pengaron, ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (21/1/2021).

Dikatakan Wahyudi Rahmat, hingga saat ini pihaknya masih menunggu proses pendataan sejumlah unit rumah rusak yang dilakukan di tingkat desa. Mengingat, sebagian rumah warga yang rusak ringan ada yang sudah dilakukan perbaikan sendiri.

“Jadi, harus dilakukan pendataan kembali. Karena hampir semua pegawai di Kecamatan Pengaron yang tinggal di desa ini juga terdampak banjir. Jadi, kami hanya bisa minta tolong kepada aparat desa untuk melakukan pendataan. Namun, aparat desa pun beralasan masih melakukan pembersihan rumahnya masing-masing,” bebernya.

Atas permasalahan tersebutlah, update data jumlah unit rumah rusak di Kecamatan Pengaron agak terlambat.

“Karena ada sebagian rumah yang dilakukan perbaikan sendiri. Maka dari itu, saya sudah menyampaikan kepada Ketua APDESI (Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia), agar seluruh Kepala Desa sungguh-sungguh melakukan pendataan,” imbaunya.

Di tempat berbeda, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Banjar, Ir Mursal, melalui Akhmad Rizqon selaku Kepala Bidang (Kabid) Penyediaan Perumahan, mengatakan, terkait jumlah rumah yang rusak seluruhnya di Kecamatan Pengaron hingga saat ini pihaknya masih belum mendapatkan datanya. Namun, pihaknya sejak kemarin sudah melakukan pendataan untuk unit rumah rusak di Kabupaten Banjar akibat terdampak bencana banjir yang diperoleh dari tingkat desa dan kelurahan.

“Keterlambatan data unit rumah rusak di tingkat desa akibat banjir tersebut, mungkin dikarenakan akses komunikasi terputus. Mengingat, sejak banjir melanda Kabupaten Banjar, aliran listrik sempat dilakukan pemutusan sementara. Ditambah, sejumlah rumah yang terdampak masih direndam banjir, sehingga proses pendataan tidak mungkin dilakukan,” jelas Kabid Penyediaan Perumahan yang akrab disapa Rizqon ini.

Kemungkinan, lanjut Rizqon, pendataan bisa sepenuhnya dilakukan, baik di tingkat desa maupun kelurahan, setelah ketinggian air banjir mulai turun, dan total jumlah rumah rusak pun akan bertambah.

“Untuk sementara, jumlah unit rumah rusak akibat terdampak bencana banjir se-Kabupaten Banjar terdata sekitar 2.200 unit, terdiri dari 1.061 unit rumah rusak ringan, 891 unit rumah rusak sedang, dan 248 unit rumah rusak berat. Hingga saat ini kami masih menunggu update data dari setiap desa yang dilakukan secara masif, sehingga tinggal melakukan verifikasi,” tuturnya.

Sementara ini, papar Rizqon, untuk jumlah rumah rusak terbanyak didapati di Kecamatan Timur dengan total 1.132 unit rumah. Sedangkan, upaya untuk melakukan perbaikan pihaknya masih menunggu Status Tanggap Darurat berakhir.

“Kalau Disperkim masih menunggu Standar Pelayanan Minimal (SPM) pasca bencana, untuk menangani permasalahan tersebut. Kalau bencana banjir di Kabupaten Banjar status bencana nasional, sudah pasti, baik pemerintah provinsi maupun pusat akan turun tangan menanggulanginya. Mudah-mudahan bantuan dari pusat juga turun,” harapnya.

Terlebih, tambah Rizqon, pihak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sudah berkoordinasi dengan Disperkim mengenai jumlah rumah rusak akibat terdampak banjir.

“Selanjutnya tinggal melakukan perbaikan. Kemungkinan rumah yang ambruk total akan dilakukan perbaikan atau mungkin akan direlokasi, guna mencegah kejadian serupa terulang. Kalau warga memiliki lahan sendiri tinggal kita bangunkan di sana, atau mungkin pemerintah yang menyediakan lahannya,” katanya.

Yang jelas, bebernya lebih jauh, kalau dalam satu titik tempat banyak rumah yang ambruk, kemungkinan relokasi dapat dilakukan.

“Tapi, kalau tidak ada bantuan, terpaksa kita menggunakan anggaran daerah semampunya,” pungkasnya.(Zai/klik)

 

Advnativ