Berkunjung ke Kampung Pelangi yang Tak Lagi Wah

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
MEGAH: Pintu gerbang masuk Kampung Melayu masih terlihat megah. (kus/klik)

Kampung Pelangi, satu nama perkampungan tematik yang begitu menyita perhatian banyak orang di tahun 2017 lalu. Berbondong-bondong warga mendatangi kampung yang saat itu memang nyaman dikunjungi. Namun sayangnya, keindahan dan keunikannya tak terjaga dengan baik. Kini kampung di bantaran Sungai Kemuning itu kembali sunyi.

Wahyu Trisna Tri Kusumati, BANJARBARU

JALAN UTAMA- Bantaran Sungai Kemuning menjadi jalur utama. (kus/klik)

Kota Banjarbaru memang terbilang muda secara otorita wilayah. Namun keberadaan Kota Banjarbaru sendiri sudah sejak lama ada. Dulu sebelum pemekaran, wilayah kota yang dipimpin Walikota Aditya Mufty Arifin ini bagian dari wilayah Kabupaten Banjar. Hanya saja kota ini istimewa karena berstatus kota administrative.

Di masa kepemimpinan Bupati Banjar Rudy Ariffin (orang tua Aditya, red.) Kota Adminstratif Banjarbaru menjadi Kota Banjarbaru pada tahun 1999 dengan Walikota Banjarbaru pertama Rudy Resnawan. Kini Kota Banjarbaru menjadi menjadi salah satu wilayah andalan di Kalimantan Selatan.

Berbagai potensi tersedia di wilayah seluas 371,00 km² ini. Kaya dengan berbagai jenis kuliner ditunjang dengan banyaknya tempat-tempat yang nyaman untuk dinikmati. Salah satunya kampong-kampung tematik.

Perkampungan tematik! Begitulah beberapa tahun yang lalu identik dengan Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kampung Pelangi menjadi salah satu kampong tematik yang biasa jadi perbincangan warga..

Kampung wisata ini berada di Jl Kemuning Ujung/Delima Ujung, RT 03/RW 01, Lokatabat Selatan. Berada di daerah Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Terletak di kawasan belakang Kolam Renang Idaman Banjarbaru. Bisa pula dituju melalui Jalan Kemuning atau melalui Kampung Sumberdadi, Banjarbaru Selatan.

Memasuki Kampung Pelangi, ada pintu gerbang yang cukup megah. Kemudian di turunan jalan menuju Kampung Pelangi, kita disambut gapura dan tugu penunjuk arah yang berdiri didekat oprit jembatan.

BACA JUGA :
Hmm...Hari Ini, Aturan 3 in 1 Tidak Belaku, Kenapa Yah.....

Tugu penunjuk arah di gerbang Kampung Pelangi, Guntung Paikat, Banjarbaru, Kalsel, itu bertulis Taman Baca arah kiri berjarak 70 meter.

Kemudian di arah kanan ada Menara pandang berjarak 1,5 Km dan Kampung Sultan berjarak 750 meter. Adalah bantaran Sungai Kemuning yang menjadi tujuan wisata di sini.

Beberapa lukisan di sana antara lain tema budaya, macam wayang, ornamen Banjar, superhero, sketsa wajah, kubisme, abstrak, tanaman dan lainnya. Pastinya sangat bagus menjadi spot foto.

Dan memang setiap pengunjung tak melewatkan lukisan dinding tersebut untuk dijadikan latar belakang berfoto sebagai penanda pernah ke Kampung Pelangi.

Sudarmin, Ketua RT 01, Kelurahan Guntung Paikat, kepada klikkalimantan.com menjelaskan,  dari 700 meter bantaran sungai yang direvitalisasi dan siring, 400 meter di antaranya dihiasi cat warna-warni dan aneka lukisan. Terutama untuk 350 rumah warga dari enam RT yang berada di tepi sungai tersebut.

“Dari situlah kenapda kampung ini dinamakan Kampung Pelangi,” katanya.
menurut dia, Kampung Pelangi yang diresmikan pada 2017 ini tercipta, karena inisiatif dari warga membuat nilai tambah dari track yang sudah selesai dibangun 2016 dan juga tambahan penghasilan untuk masyarakat.

“Masyarakat bingung mau dibuat apa setelah track ini jadi, setelah itu kami mengecat empat rumah kemudian viral di media sosial. Setelah viral Pak wali kemudia merespon dan mensuport, karena dilihat nya ramai”‘ papar Sudarmin, di kediamannya. (20/3/2021)

MULAI USANG- Warna cat yang semua begitu dominan kini mulai usang. (kus/klik)

Sudarmin pun menjelaskan, bahwa setalah direspon Walikota Alm. Nadjmi Adhani dan dicarikan seponsor masyarakatnya kurang inisiatif membantu. Sehingga pembuatan kampung pelangi banyak dibantu relawan yang ada di Banjarbaru, semua fasilitas sudah disiapkan oleh pemerintah kota (pemko).

“Fasilitas sudah ditanggung pemerintah kota, namun masyarakatnya sendiri tidak ada kontribusi. Sehingga sebaik apapun pemerintah kota membantu, kalau masyarakatnya pasif ya tidak jalan,” tambahnya.

BACA JUGA :
Memoles Lagi Warna-warni ‘Kampung Pelangi’ (3-habis)

Beliau pun mengatakan, saat ini Kampung Pelangi mengalami stagnan. Karena sudah tidak ada yang mengelolanya. Hanya sebagian kecil yang dapat dikelola, yaitu fasilitas fitnes tepat dibelakang rumah. Jika untuk mengola semua fasilitas yang ada, seperti taman anak-anak beliau tidak sanggup. ***