Menyingkap Potensi ‘Disembunyi’ di Sumberadi (4-habis)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Menanti Realisasi Solusi Menjadikan Sumberadi Sentra Produksi Tempe di Banjarbaru

Oleh: Rudiyanto

“Bina, bantu kami untuk mengembangkan Sumberadi sebagai sentra produksi tempe. Karena ini riil, potensi yang sudah ada sejak lama. Bukan sebuah kegiatan usaha yang mendadak diada-adakan sekadar agar mendapat bantuan,” kata Endar Priyono, seorang pengolah tempe di Sumberadi, Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru saat ditemui klikkalimantan.com Rabu pekan kemarin.

Sebuah pernyataan bersirat asa besar, Sumberadi berkembang sebagai sentra produksi tempe di Kota Banjarbaru. Pernyataan yang sekaligus bentuk keputusasaan. Karena meski sudah ada puluhan tahun silam, para pengolah tempe di Sumberadi bertahan tanpa campur tangan pemerintah.

Faktanya, para pengolah tempe di Sumberadi tak tercatat dalam daftar pelaku industri usaha mikro di Dinas Koperasi UMKM dan Tenaga Kerja Kota Banjarbaru. Ratna Sari, Kepala Seksi (Kasi) Promosi Pemasaran dan Jaringan Usaha mengatakan, pendataan dan pelatihan pelaku usaha dilakukan sesuai kategori. Beberapa kategori yang ditetapkan yakni, kuliner, fashion Teknik internet.

“Tempe tidak termasuk karena termasuk bahan olahan mentah. Ada yang kami fasilitasi mendapatkan pelatihan, tapi berupa produk olahan berbahan tempe. Semisal keripik tempe,” kata Ratna Sari ditemui klikkalimantan.com, Rabu (1/12/2021).

Lain lagi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarbaru yang mengakui Sumberadi berpotensi besar berkembang sebagai kawasan sentra pengolahan dan olahan tempe. Shanty Eka Septiani, Kepala Bidang (Kabid) Penegakkan Hukum dan Pengendalian Lingkungan Hidup menyebutkan, jika terkelola dengan baik, Sumberadi potensial dikembangkan sebagai kawasan sentra pengolahan tempe.

Salah satunya, pola pengolahan limbah. Karena menurut Shanty, proses pengolahan tempe; perebusan, perendaman, dan pencucian kedelai, menghasilkan limbah cair. Saat tahap perendaman kedelai dengan waktu satu malam misalnya, terjadi proses permentasi yang membuat munculnya zat organik dalam air. Jika air dengan kandungan zat organic tersebut dilepas langsung ke sungai, terlebih lagi dalam jumlah yang banyak, akan menjadi makanan bajgi bakteri. Hasilnya akan menyebabkan terjadinya perubahan warna air dan berbau.

Shanty Eka Septiani Kabid Penegakkan Hukum dan Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kota Banjarbaru

“Mengacu pada Permen LH Nomor 5/2014, khusus baku mutu air limbah bagi usaha dan atau kegiatan pengolahan kedelai, ada ambang batas Cod, Bod, Tss dan PH yang wajib dipenuhi sebelum dilepas ke sungai atau ke saluran air,” ujarnya ditemui, Rabu (1/12/2021).

Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan para pengolah tempe terkait limbah. Pertama menurut Shanty, air rendaman kedelai dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas dengan membuat biodigester. Api yang dihasilkan dapat menjadi alternatif pengganti kayu bakar yangd igunakan untuk merebus kedelai.

Kedua, air rendaman kedelai bisa juga diolah menjadi pupuk cair. Dibanding pembuatan biogas, pemanfaatan air rendaman kedelai menjadi pupuk cair lebih mudah. Air rendaman kedelai ditampung dalam drum, tambahkan cairan EM4 dan molase, atau pengganti gula. “Tutup dan diamkan air kedelai sedikitnya 14 hari,” kata Shanty.

Ketiga, pengolahan limbah dengan pembuatan sistem filterisasi menggunakan pipa paralon. Polanya kurang lebih sama dengan kolam pengolahan limbah. Diakui Shanty, untuk pembuatan kolam pengolahan limbah, warga terkendala lahan lantaran rumah mereka sudah sangat berdekatan dengan sempadan Sungai Kemuning.

“Desember 2019, kami pernah melakukan sosialiasi terkait pengolahan limbah pembuatan tempe di Sumberadi. Untuk pembuatan kolam pengolahan limbah, warga menyampaikan terkendala lahan. Dan lagi mereka berpendapaat, kegiatan yang dilakukan tidak mencemari air sungai,” kata Shanty.

Diakuinya, memang belum ada langkah lanjutan pasca sosialisasi. Keterbatasan anggaran imbas pandemic Covid-19 penyebabnya. Meski begitu, pihaknya mengaku siap jika nantinya para pengolah tempe meminta dilaksanakan pelatihan pupuk cair, atau sitem filterisasi air limbah menggunakan paralon.

“Pada dasarnya kami siap. Hanya saja untuk pengambangan sebuah kawasan sentra tempe perlu campur tangan instansi lain. UMKM misalnya. Karena dari tempe yang dihasilkan bisa dibikin olahan lain, kripik misalnya. Juga regulasi yang mengatur aktifitas usaha di tengah permukiman padat penduduk dan bantaran sungai,” kata Shanty. ()