DIKERAMATKAN - Dipercaya sebagai tepat petapaan Pangeran Suryanata, Raja Pertama Kerajaan Banjar, sebongkah batu berukuran besar yang berada di wilayah perkebunan karet milik PTPN 13 Danau Salak dikeramatkan.

klikkalimantan.com – Berbekal sebuah senter, Ramelan, Ponidi, Agus, dan Amat  berjalan membelah pekatnya malam. Tak lama menyisir jalanan yang belum beraspal, ke empat orang warga Desa Sungai Arfat RT 3,Kecamatan Karang Intan itu mulai memasuki  jalanan setapak. Sebuah papan penunjuk arah berukuran kecil bertuliskan ‘Ke Sulasih’ sekilas tertangkap bias cahaya lampu senter yang mereka bawa.

Meski belum genap pukul sembilan, namun suasana malam di tengah belantara perkebunan karet milik PTPN XIII Danau Salak terasa begitu sunyi. Rindang dedaunan pohon bergetah kental itu, menahan cahaya bulan yang baru sabit. Nyanyian binatang malam, mengiringi langkah kaki keempatnya menyingkap kesunyian di antara pepohonan karet berukuran cukup besar tumbuh teratur dalam barisan. Suara beluk (burung hantu) sesekali terdengar menambah suasana kian mencekam, terkadang membuat bulu kuduk merinding.

Sekitar dua puluh menit berjalan kaki, tak ada percakapan di antara mereka. Sepertinya, semua telah terencana matang. Tak berapa lama menyisir di jalur setapak, mereka tiba di tempat yang dituju. Sebuah kubah atau lebih tepat di sebut gubuk di tengah tengah perkebunan, berukuran sekitar 3×3 meter. Di sekeliling kubah, kain kuning membentang. Bentangan kain kuning, bak dinding penutup kubah beratapkan seng itu. Bentangan kain kuning sekaligus menegaskan, tempat itu dikeramatkan.

Tepat di tengah-tengah kubah, sebuah batu berwarna putih kecoklatan berbentuk pipih, menyembul di permukaan tanah dengan posisi miring. Di atas dan sekeliling batu yang termurun di percaya warga sebagai tempat petapaan Pangeran Suryanata, Raja Kerajaraan Banjar pertama ini, bertaburan bunga. Ada juga rangkaian bunga pada pelepah pisang yang diletakkan. Bau harum yang masih tercium, menadakan bunga-bunga itu belum lama diletakkan dan ditaburkan.

Sesampainya di Sulasih, lampu senter yang semula menjadi satu-satunya sumber cahaya mereka matikan. Pekat kian tak tertembus mata. Hanya samar-samar cahaya bulan yang terelihat menerobos di antara celah-celah dedaunan. Sesaat setelah senter dimatikan, mereka berempat kemudian duduk bersila mengelilingi batu. Mereka bertawasul dengan membaca ayat-ayat Alquran. Tujuannya, ada benda pusaka yang terangkat dari alam sebelah.

Sesaat kemudian, suasana terasa begitu sunyi. Hanya suara ‘mantra’ yang mereka baca, terdengar lirih di antara binatang malam yang masih saja melantunkan nyanyian-nyanyiannya. Cukup lama mereka duduk bersila dengan mulut komat kamit, dan mata terbuka. Namun masih belum ada tanda-tanda atau hal aneh terjadi. Hingga kemudian, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh tak jauh dari mereka bertawasul mengelilingi batu. Seperti seseorang yang sengaja melempari mereka dengan batu dan kerikil. Namun tak ada siapa-siapa di sana kecuali mereka berempat.

Kejadian itu sempat membuat konsentrasi Ponidi sempat buyar. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Ia bahkan sempat menghentikan bacaan-bacaan. Namun mengetahui itu salah satu godaannya, Ponidi menguatkan diri dan kembali melanjutkan bacaan-bacaan bersama yang lain.

Cukup lama mereka bertawsul dengan terus membacakan ayat-ayat Alquran. Namun belum ada tanda-tanda akan ada sesuatu yang mereka dapat dari tawsul yang mereka lakukan kecuali dilempari batu tanpa tahu siapa yang melemparnya itu. Malam mendekati larut, saat mereka berniat memutuskan berhenti bertawasul, tiba-tiba dari atas kubah ada sesuatu yang bersinar.

Dari atas kubah, sinar itu perlahan turun di atas batu , tepat di hadapan mereka berempat. Mengetahui ada benda gaib yang datang, bacaan-bacaan khusus untuk amalan bertawasul mengangkat benda-benda gaib mereka baca tanpa jeda. “Bersamaan turunnya cahaya yang menyilaukan itu, saya melihat kelebatan yang nampak seperti jubah berwarna putih terang,” kata Ponidi akhir pekan lalu.

Di atas batu, cahaya dari benda sebesar kelereng itu semakin menyilaukan mata. Cahaya itu melayang di atas batu. Tak lama kemudian, cahaya lain yang tak kalah menyilaukan keluar dari dalam tanah tepat di bawah batu. Di antara mereka berempat, Amat yang berada paling dekat dengan kemunculan cahaya itu. Dengan kedua tangannya, Amat berusaha meraihnya. Namun seperti ada yang menahan kuat kedua tangannya. Amat tak berdaya. Seperti yang lainnya, ia hanya bisa melihat cahaya itu melayang-layang di hadapannya.

“Sepertinya berbentuk batu, mungkin juga intan. Tapi mungkin belum jodohnya jadi tidak bisa didapat. Di Sulasih memang banyak benda-benda pusaka. Ada juga yang sengaja diberikan pemiliknya dari alam sebelah. Bentuknya macam, ada keris, batu, bangsal, dan banyak lagi,” kata Agus yang juga diamini Amat.

***

Sulasih, atau warga sekitar tempat itu biasa menyebutnya Bukit Sulasih, sudah sejak lama dikeramatkan. Banyak orang berdatangan dari berbagai daerah, seperti Banjarmasin dan Hulu Sungai, berziarah ke Sulasih. Ada juga yang datang membawa membawa nazar.

Tak ada yang tahu sejak kapan nama Sulasih digunakan untuk menyebut tempat itu. Dari cerita turun-temurun warga dan para peziarah yang datang, batu pipih yang ada di kubah Sulasih adalah tempat pertapaan Pangeran Suryanata, raja pertama Kerajaan Banjar. “Pada malam-malam tertuntu, sang pangeran kadang menampakan diri  dengan menunggang kuda putihnya. Lengkap bersama pasukan kerajaanya,” kata Ponidi.

Tak jauh dari tempat batu berada, di bawah pohon randu terdapat sebuah sumur yang airnya tak pernah kering. Dengan meminum air dari sumur itu, konon dapat menyembuhkan penyakit yang sudah  lama diderita dan tak sembuh-sembuh. “Namun jika dalam satu tahun tidak kembali datang ke Sulasih penyakitnya bisa kambuh lagi,” kata Agus.

Keramat yang Diziarahi

Dipercaya sebagai tepat petapaan Pangeran Suryanata, Raja Pertama Kerajaan Banjar, Bukit Sulasih dikeramatkan. Terutama di tiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, ada saja yang datang untuk berziarah. Para peziarah yang datang umumnya berasal dari luar wilayah Kecamatan Karang Intan.

Supian, salah seorang peziarah yang datang bersama sejumlah sanak saudaranya mengatakan, sekali dalam setahun, meraka selalu menyempatkan diri datang untuk berdoa dan menggelar selamatan di dekat batu yang saat ini sudah dibangun kubah ini.

“Setahun sekali pasti ke sini. Dan itu sudah turun temurun sejak orang-orang tua kami dahulu. Karena jika tidak, akan ada saja anggota keluarga kami yang sakit,” kata Supian diamini para peziarah yang lain, Minggu kemarin.

Disampaikannya, berdasarkan kisah turun temurun dari kakek moyangnya, konon di atas batu berwarna putih kecoklatan tersebut menjadi tempat bersemedinya Pangeran Suryanata. Saking lamanya bertapa, wadatnya lenyap ke dunia sebelah.

“Yang kami tahu dari ceita turun temurun kakek nenek kami seperti itu. Di tempat ini dulu Pangeran Suryanata pernah bertapa hingga tubuhnya gaib di alam sebelah. Padahal hakekatnya Beliau masih ada di dunia ini,” kata Supian

Melengkapi ritual, para peziarah biasanya selalu menyempatkan diri membasuh muka dengan air dari sumur kecil yang terletak tak jauh dari batu yang kini sudah dibangun kubah. Beberapa peziarah ada juga yang mandi menggunakan air sumur.

Sama halnya batu petapaan, sumur kecil dengan kedalaman tak lebih dari dua meter tersebut juga dikeramatkan. Karena meski cukup dangkal, air di dalam sumur tersebut konon  tak pernah kering kendati musim kemarau melanda panjang. (rudiyanto)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini