Lapak Buku di Acara Musik Punk

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
PUNK - Seorang punk sedang fokus membaca buku pada even musik punk bernama South Borneo Punk Invasion pada Selasa (10/12/2019) di Jorong Cafe & Resto Jalan Belitung, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (foto: mar/klik)

klikkalimantan.com – Komunitas punk Circle E X Murjani Street Crew mengadakan event musik punk bernama South Borneo Punk Invasion pada Selasa (10/12/2019) di Jorong Cafe & Resto Jalan Belitung, Kota Banjarmasin.

Acara tersebut diisi oleh band-band legendaris bergenre punk atau skinhead asal Kalsel, di antaranya Bejad Junior dan Time Out, Distract, Kick Off, dan beberapa band baru; Human Chaos, Al-Qaeda, River Anthem, Terror Mental, the batuks, Kariwaya dan Sleeppilis.

Menurut penuturan salah seorang penggagas kegiatan, Arida mengatakan event punk ini merupakan wujud sebuah pergerakan kembali kultur punk di Kalimantan Selatan, semua komunitas punk tumpah ruah diacara ini untuk saling silaturahmi antar sesama sahabat.

“Selain event musik ini juga sebagai sarana pergerakan punk di Kalsel serta ajang silaturahmi kawan-kawan di komunitas punk,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan acara tersebut merupakan hasil kolektif dari kawan-kawan yang mendukung acara South Borneo Punk Invasion. Mereka yang merasa peduli dengan skena punk di Kalsel turun untuk membantu keberlangsungan acara tersebut.

“Semua urunan, dari sponsorship hingga panitia yang dari kawan-kawan dikomunitas punk juga, ini acara murni musik punk. Dari punk dan untuk punk” ucapnya.

Selain musik yang di sajikan, adapun beberapa berbagai lapak yang hadir dalam event musik tersebut seperti, lapak baju, lapak aksesoris punk dan lapak buku. Lapak buku inilah yang sangat jarang ditemui di beberapa acara musik punk.

Salah seorang Pelapak buku, Fariz mengatakan lapakan buku tersebut merupakan bentuk edukasi alternatif bagi kawan-kawan yang ingin menambah wawasan serta pengetahuan lebih, selain datang ke acara musik untuk menonton para band, namun bisa juga sambil baca-baca buku.

“Bentuk edukasi alteranatif, karena ilmu tidak hanya didapat, bangku sekolah ataupun kuliah tapi di mana saja bisa,” kata Fariz.

BACA JUGA :
Raperda RPJMD 2021 - 2026 dan Pertangungjawaban APBD 2020 Kota Banjarbaru Disetujui Dewan

Ia juga menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah hak semua manusia, semua orang berhak untuk berilmu siapapun orangnya, apapun kelasnya. Semua berhak untuk mendapatkan wawasan lebih untuk bekal dirinya sendiri.

Seorang punk dari Yogyakarta, Faiz mengatakan lapak buku menjadi sebuah edukasi alternatif yang harus tetap ada di bagian dari komunitas musik underground khusus punk, karena adanya kebutuhan tentang edukasi jangan hanya tentang musik saja.

“Lapak buku dan skena komunitas punk tidak boleh dipisahkan, antara edukasi dan musik dalam lingkup punk harus tetap ada,” ungkapnya. (mar/klik)