Qurban

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
(Foto : Net/Klik)

Oleh Almin Hatta

Sayang isteri ditinggalkan, sayang anak ditangiskan.

PETUAH orang-orang tua dari Ranah Minang di atas sepintas terasa sangat naif. Masa iya, sayang isteri ditinggalkan sayang anak ditangiskan? Tapi, setelah dicerna dengan saksama, petuah tersebut ternyata sangat dalam maknanya. Sangat mulia tujuannya.

Kalau Anda benar-benar teramat sayang kepada isteri, maka tinggalkanlah ia dengan perasaan lega dan bahagia. Pergilah mencari nafkah ke mana saja, bahkan kalau memang perlu sampai nun jauh ke tanah seberang perantauan sebagaimana umumnya yang dilakukan para lelaki dari Ranah Minang.

Kalau Anda benar-benar sayang kepada anak, biarkanlah ia menangis semaunya, biarkanlah ia menangis sekerasnya, biarlah airmata darah mengucur dari mata indahnya yang memesona. Asalkan tak semua pintanya dikabulkan, asalkan tak semua keinginannya diperturutkan. Sebab, tak semua permintaan menguntungkan bagi anak yang bersangkutan. Tak semua keinginan anak akan memberikan kebahagiaan, terutama di masa depannya yang merupakan perjalanan teramat panjang.

Keinginan anak membeli jajan sembarangan, tentu akan sangat rawan terhadap penyakit yang bisa datang kapan-kapan. Keingan anak terhadap pistol-pistolan berpeluru tajam sudah kerap berujung pada kecelakaan. Keinginan anak untuk dibebaskan memilih permainan, justru membuatnya lupa akan kewajiban belajar dari buaian sampai tanah pekuburan. Memperturutkan keinginan anak memiliki apa saja yang ia suka, akan menjadi awal baginya menghalakan segala cara: jika tak dapat membeli, maka ia akan mencuri.

Karena itulah Muhammad saw dengan tegas menyatakan, “Jika Fatimah melakukan tindakan pencurian, maka akulah yang akan memotong tangannya dengan pedang teramat tajam.”

Memang, pernyataan Rasulullah itu lebih kepada penegakkan hukum tentang tindakan pencurian yang terlarang. Tapi, di sisi lain, ia juga menyiratkan tindakan kasih seorang ayah kepada anaknya tersayang. Demi kebaikan anak yang bersangkutan, maka tindakan keras ada kalanya harus dilakukan. Sebab, sekali orang mencuri maka lain kali akan diulang kembali. Hari ini jadi pencuri, kelak jadi rampok atau pelaku tindakan korupsi. Yah, demi kebaikan dan pertanda kasih orangtua, kalau perlu anak pun dikorbankan.

Nah, dalam sejarah peradaban manusia, pengorbanan terbesar adalah tindakan Nabi Ibrahim as menyembelih anaknya Ismail as. Tindakan yang lebih kerap ditulis dengan kata “qurban” ini tak semata menyangkut soal keimanan, tapi juga soal kasih seorang ayah kepada anak tersayang. Agar anak tersayang jangan sampai salah jalan, agar anak tersayang jangan sampai berpaling keimanan, maka biarlah ia dikorbankan. Biarlah tangannya dipotong hingga buntung, biarkan lehernya dipancung.

Yah, apa hendak dikata, daripada si anak nantinya jadi budak narkoba, daripada ia jadi pemerkosa, daripada ia jadi durjana “pemetik bunga”, daripada ia jadi maling dan mengkorup uang negara, maka ajarlah ia dengan keras sejak belia. Tentu tak sembarang tindakan keras dapat diterapkan dalam setiap kesempatan, melainkan tindakan keras yang sesuai dengan dasar kasih sayang demi masa depan si anak yang gemilang.***