Wabup Banjar Hadir di Haul ke-87 Tuan Guru Sapat di Tembilahan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram

klikkalimantan.com, MARTAPURA – Wakil Bupati (Wabup) Banjar, Habib Idrus Al Habsyi menghadiri peringata Haul ke-87 Syekh Abdurrahman Siddiq bin Syekh Muhammad Afif Al Banjari, Minggu (18/2/2024) di Masjid Hidayah, Desa Teluk Dalam, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Mendampingi Wabup Habib Idrus menghadiri haul yang diikuti irbuan jemaah ini; Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Ikhwansayah dan Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (DKISP), Hm Aidil Basith.

Wabup Habib Idrus menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran peringatan haul, juga kepada masyarakat Banjar yang telah lama bermukim di wilayah Tembilahan

“Kami ucapkan terima kasih juga kepada keluarga besar sahibul haul atas penyambutan yang luar biasa kepada kami, keluarga Banjar di Tembilahan yang telah membantu serta Pemkab Inhil atas fasilitasi selama kami di sini.” ucap Habib Idrus.

Dikutip dari Buku Tuan Guru Sapat karya Abdul Muthalib, Syekh Abdurrahman Siddiq atau Tuan Guru Sapat merupakan anak dari Syekh Muhammad Afif yang bermakam di Desa Kelampaian, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Beliau lahir di Desa Dalam Pagar, Martapura pada tahun 1867 M (1284H). Beliau merupakan seorang guru agama islam (Mufti Kerajaan Indragiri) yang cukup tersohor dan banyak memiliki murid yang berasal dari Malaysia, Singapura, Kalimantan, Jambi dan Palembang. Ayahnya bernama Muhammad Afif bin Khadi H Mahmud dan ibunya bernama Shafura dan beliau merupakan keturunan ulama besar dari Kalimantan bernama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Sebelum menetap di Sapat Indragiri Hilir, Tuan Guru Sapat merantau ke Padang, Sumatera Barat untuk menemui paman beliau bernama As”ad. Di tanah minang tersebut, beliau menjalankan usaha sebagai penyepuh emas sembari berdakwah ke pelosok-pelosok Sumatera Barat berbekal ilmu agama yang telah didapatkannya di pesantren sewaktu kecil.

BACA JUGA :
Apel Kerja Gabungan, Kepala Disdik Sampaikan Target Implementasi Kurikulum Merdeka

Sekitar  1886, beliau memutuskan berangkat ke Mekah untuk lebih mendalami ilmunya. Setelah 7 tahun menetap dinegeri padang pasir akhirnya beliau izin untuk pulang ke tanah air dengan alasan ingin mengabdikan ilmunya di kampung halaman dan mendapatkan persetujuan dari birokrasi pendidikan Mekah. Setelah di Kalimantan, beliau memutuskan untuk migrasi ke Sumatera tepatnya ke Bangka Belitung dimana Muhammad Affif (ayah beliau) merantau.

dan pada 1890-an beliau tiba di Sapat, Indragiri Hilir. Migrasinya beliau dari Bangka Belitung ke Indragiri Hilir berdasarkan informasi dari seorang saudagar asal Indragiri Hilir bernama Haji Arsyad bahwa Indragiri Hilir (Sapat) memiliki potensi dan membutuhkan seorang ulama seperti beliau. Seiring berjalannya waktu, Sultan Indragiri (sewaktu itu Sapat adalah bagian dari wilayahnya) mendapat informasi dari panco Atan (warga Indragiri yang pernah belajar dimekah) bahwa di Sapat terdapat seorang ulama besar. Atas informasi tersebutlah, Sultan mengundang beliau untuk bertemu.

Pada perbincangan keduanya, muncullah permintaan Sultan Indragiri agar beliau bersedia menjadi Mufti yakni seorang ahli agama yang ditugaskan oleh Sultan untuk memenuhi kebutuhan umat islam khususnya dalam hal perkawinan, mawaris, pengadilan dan perceraian. Namun awalnya, permintaan Sultan tersebut ditolak secara halus oleh beliau karena alasan masih memiliki tanggung jawab sebagai pengajar dilembaganya yang sebenarnya juga beliau tidak menyukai akan sebuah jabatan

Akhirnya dengan bujukan sultan dan demi kepentingan agama diwilayahnya, beliau bersedia menjadi Mufti dengan syarat diantaranya beliau tetap tinggal di Sapat dan tidak mau menerima gaji dari kerajaan. Permintaan beliau tersebut disetujui oleh pihak istana dan pada tahun 1327 H/1910 M, beliau diangkat menjadi Mufti Kerajaan Indragiri hingga tahun 1354 H/1935 M. (to/klik)

Berita Terbaru

Scroll to Top