klikkalimantan.com, MARTAPURA – Terdampak bencana banjir di penghujung 2025 dan awal tahun 2026, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar membentuk tim teknis untuk melakukan verifikasi dan menganalisis laporan kerusakan infrastruktur di semua jenjang satuan pendidikan sebelum melakukan perbaikan.
Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana (Sarpras) Disdik Kabupaten Banjar, Mahriansyah mengatakan, dibentuk pada 23 Januari 2026 kemarin, tim teknis tengah melakukan analisis laporan kerusakan infrastruktur pada satuan pendidikan berdasarkan indikator rusak ringan, sedang, dan rusak berat.
“Dari laporan yang kami terima terdata 117 sekolah dari semua jenjang, baik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) terdampak banjir. Pekan depan mungkin sudah kami ketahui terkait kategori kerusakan yang terjadi. Saat ini sudah 105 sekolah yang dilakukan analisis kerusakannya,” ujarnya pada Selasa (27/1/2026).
Setelah proses verifikasi dan analisis data dilengkapi dengan bukti foto dan video yang dilaporkan sekolah selesai, lanjut Mahri, tim teknis lanjut melakukan verifikasi lapangan.
“Berdasarkan informasi awal yang diterima, indikator kerusakan kebanyakan kategori ringan berdasarkan bobot indikator kerusakan yang dihitung per komponen. Tapi saya masih menunggu laporan hasil analisis dari tim teknis terlebih dahulu, karena ada beberapa sekolah yang terendam banjir cukup lama seperti di zona bawah, yakni di Kecamatan Martapura Barat, Sungai Tabuk, dan Kertak Hanyar,” katanya.
Kendati demikian, Mahri meyakini, kebanyakan sekolah yang mengalami kerusakan dengan konstruksi kayu, terlebih jika terendam air banjir cukup lama seperti di wilayah Kecamatan Martapura Timur, Martapura Barat, Sungai Tabuk, Kertak Hanyar, Aluh Aluh.
“Bangunan sekolah dengan konstruksi beton biasanya jarang terjadi kerusakan. Hal ini tentu masih menjadi PR kita agar melakukan revitalisasi bangunan sekolah dengan konstruksi kayu diubah menjadi beton, kalau tidak memungkinkan dengan konstruksi beton, kita upayakan menjadi semi permanen. Karena di Kabupaten Banjar masih ada sekolah lama yang didirikan sejak 1960 – 1980,” beber Mahri.
Karenanya, ia berharap kegiatan revitalisasi untuk bangunan satuan pendidikan di bawah naungan Disdik Kabupaten Banjar kedepannya dapat dilakukan secara menyeluruh bangunan, tidak lagi secara parsial.
“Meski membutuhkan dana besar tapi lebih efesien, karena secara biaya bangunan sekolah dengan konstruksi kayu juga cukup mahal,” ucapnya.
Sedangkan untuk kegiatan revitalisasi yang telah dilaksanakan Disdik Kabupaten Banjar dengan total anggaran Rp87 Miliar pada 2025, Mahri menyebutkan telah terserap lebih dari 90 persen dengan sasaran 123 sekolah di semua jenjang.
“Tidak terserap 100 persen, salah satu faktornya seperti adanya back up final quantity proyek kurang (kurang volume/kurang bayar). Sedangkan untuk kegiatan revitalisasi pada 2026 ini sudah dianggarkan sebesar Rp57 Miliar. Terkait sekolah yang rusak akibat banjir kita juga coba usulkan melalui anggaran lain baik melalui APBD provinsi hingga APBN,” pungkasnya.(zai/klik)






































