Pertahankan Tradisi, Warga Desa Limamar Sambangi Sawah di Bawah Guyuran Hujan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
(Foto : istimewa/klik)

Klikkalimantan.com, MARTAPURA – Usai shalat Jum’at 10 Juli 2020 lalu, terlihat pemandangan yang tak biasa di Desa Limamar, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Lebih dari seratusan warga di bawah guyuran hujan berbondong-bondong menyambangi kawasan pertanian yang menjadi ladang mereka berkerja sehari-hari. Ada apa gerangan?

Kejadian tak lazim tersebut pun diabadikan oleh seorang warga Desa Limamar pada akun jejaring sosial Facebook dengan nama Mansuy, hingga mengundang pertanyaan puluhan pengguna akun Facebook lainya.

Ternyata, momen tak biasa tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat Desa Limamar usai bercocok tanam benih padi. Tradisi yang tetap membudaya dan dilestarikan hingga sekarang, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

“Setiap tahunnya, setelah semua warga yang sebagain besar berprofesi petani usai bercocok tanam, atau menanam benih padi, mereka akan bergotong royong melaksanakan acara syukuran atau selamatan yang digelar di pematang sawah (galangan),” ujar Mansyur, pemilik akun Facebook ‘Mansuy’ kepada klikkalimantan.com melalui via telepon WhatsApp, Minggu (12/7/2020).

Tradisi syukuran di pematang tersebut, diakui Masyur, telah diwariskan sejak turun-temurun hingga sekarang. “Jadi, sepengetahuan saya, masih ada beberapa desa yang melestarikan budaya ini sampai sekarang. Salah satunya warga Desa Lok Gabang, Kecamatan Astambul, yang kemarin juga melaksanakan,” katanya.

Pada tradisi syukuran tersebut, papar Mansyur, semua pemilik ladang akan membawa bekal makanan masing-masing dan dibagikan kepada warga yang berhadir usai pembacaan do’a selamat bersama.

“Selain tetap melestarikan tradisi syukuran di pematang sawah, warga Desa Limamar pun dalam aktivitas pertaniannya tetap melestarikan tradisi ‘Bahandip’. Yakni bergotong royong saat bercocok tanam dan memanen padi seperti di desa-desa lainya,” ujarnya.

Perlu diketahui, tradisi Bahandip merupakan kegiatan sosial warisan para pendahulu. Utamanya dalam aktivitas pertanian yang ada di desa-desa dalam kultur masyarakat Banjar.

BACA JUGA :
Kemiskinan dan Kinerja BUMD Disorot Dewan, Ini Tanggapan Bupati Banjar

Selain melestarikan tradisi budaya Banjar dalam hal bergotong royong agar kekompakan masyarakat tetap terjaga, Bahandip juga menjadi salah satu cara alternatif bagi petani untuk menghemat biaya yang mesti dikeluarkan saat melaksanakan aktivitas pertanian. Terlebih, kondisi perekonomian sulit saat ini, dan bagi para petani yang tidak tergabung dalam kelompok handipan, bisa menyewa jasanya sesuai kesepakatan dan dibayarkan kepada ketua kelompok handipan.(zai/klik)