Kartu Kehidupan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
(Foto : Air Kehidupan/ilustrasi/net/klik)

Oleh: Almin Hatta

Ibarat kapal, jangan cuma jadi penumpang. Raihlah sebuah peranan, meski itu cuma sebagai Pak Serang.

“KITA tidak bisa mengganti kartu kehidupan yang telah dibagikan, tetapi kita bisa menentukan cara memainkannya.” Kalimat sederhana namun padat berisi ini meluncur dari mulut manis Wenda Stoeker, mahasiswa Universitas Florida, yang meraih juara dua lomba renang di kampusnya. Padahal, gadis cantik itu terlahir tanpa lengan yang fungsinya sangat dominan bagi seorang perenang.

Sebagaimana kartu yang nyaris tak pernah lengkap, maka Wenda Stoeker tak berharap laju renangnya didapat dari kayuhan tangan yang disadari tak dimilikinya. Tapi ia punya dua kaki yang teramat kuat, sebab sejak kecil digunakannya dengan tugas berlipat-lipat. Kecuali sebagai penopang badan dan untuk berjalan, kedua kakinya juga berfungsi sebagai pengganti tangan. Nah, kedua kakinya yang teramat kuat itulah yang mendorong tubuhnya sedemikian kencang sampai kemudian targetnya menjadi juara renang jadi kesampaian.

Wenda cacat tentulah contoh kelewat ekstrem untuk menunjuk sebuah kekurangan. Sebab, meski kebanyakan orang beranggota badan lengkap-lengkap saja, tapi sebenarnya tak seorang pun yang sempurna. Setiap orang selalu memiliki kekurangannya. Ada yang tampan tapi berotak udang. Ada yang buruk rupa tapi rezekinya melimpah tak terkira.

Padahal, di sisi lain, keinginan siapa saja hampir sama banyaknya. Hampir semua orang ingin jadi yang terbaik, ingin jadi juara. Hampir semua orang ingin sukses usahanya. Bahkan hampir semua orang pula setiap saat berharap jadi kaya.

Persoalannya, kebanyakan orang cuma suka memanjangkan angan namun kurang gigih untuk mewujudkannya. Banyak orang hanya pandai menghitung untung ruginya, tapi tak kunjung mencobanya. “Banyak orang yang gatal ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak mau menggaruk untuk itu,” ujar Zig Ziglar, pakar pendorong semangat dari Amerika Serikat.

Ada memang orang-orang yang sudah mencoba, tapi karena berkali-kali gagal ia jadi teramat kesal dan kemudian putus asa. Karena sudah hilang harapan, yang bersangkutan lalu mundur dari medan perjuangan. Maka yang didapatnya tentulah kekalahan.

Padahal semua orang bisa keluar sebagai pemenang, meski tak semuanya tampil sebagai juara. Jadi, setidaknya, setiap orang bisa terhindar dari posisi sebagai pecundang.

Hanya saja, orang seringkali menyalahkan nasib. “Sudah suratan hidup,” katanya. “Memang demikianlah kartu kehidupan yang diberikan oleh pemilik alam,” timpal yang lainnya.

Padahal, sejelek apa pun kartu di tangan, jika pandai memainkannya tentulah akan membawa hasil lumayan. Seperti petuah Wenda di atas, kita harus menentukan permainannya. Jadi, jangan larut  dalam permainan yang dikendalikan orang. Ibarat kapal, jangan cuma jadi penumpang. Melainkan ikut berperan, meski cuma sebagai Pak Serang (kelasi) yang ternyata sangat menentukan bagi sandar tidaknya sebuah kapal di pelabuhan. Memang bukan dia yang mengendalikan kemudi, tapi ia yang pegang tali.***