klikkalimantan.com, MARTAPURA – Bertahun-tahun digabung, pelayanan medis dua poliklinik; Poli Rehabilitasi Medik dan Poli Paru pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura, Kabupaten Banjar akhirnya dipisah. Poli Paru dipindah ke ruangan baru yang rampung dibangun akhir Desember 2025 kemarin, tepat berseberangan dengan Poli Rehabilitasi Medik yang juga direnovasi.
Pemisahan keduanya direspons baik, utamanya bagi pasien dan keluarga pasien yang menjalani perawatan rutin di Poli Rehabilitasi Medik, poliklinik yang juga menyelenggarakan pelayanan terapi okupasi dan wicara bagi anak-anak.
“Alhamdulillah sudah dipisah. Karena jika tetap digabung, sangat berisiko bagi anak-anak. Apalagi penyakit paru termasuk penyakit menular,” kata Latifa, salah satu orang tua yang anaknya menjalani terapi wicara di rumah sakit tersebut.
Diakuinya, sejak pertama anaknya menjalani terapi okupasi dan wicara November 2024, Latifa mengaku kaget dan khawatir. Karena lagi-lagi, penyakit paru termasuk penyakit infeksius.
Melalui kanal pengaduan daring, ia mengaku sempat urun saran agar dilakukan pemisahan. “Pernah berinteraksi dengan pasien/orang dengan penyakit paru, salah satu pertanyaan paling sering ditanyakan dokter saat saya bawa periksa anak yang sedang batuk pilek. Itu kan tanda penyakit paru gampang menular. Lah di rumah sakit kok justru digabung sama pasien anak-anak,” kata Latifa.
Direktur RSUD Ratu Zalecha, Arief Rachman pun mengakui tentang itu. Tentang penyakit paru yang infeksius, tentang risiko penularan jika kedua poliklinik tetap dalam satu ruangan.
Namun karena sejumlah alasan, termasuk anggaran, menurut Arief pemisahan keduanya baru dapat terlaksana tahun ini. “Alhamdulillah, sesuai dengan keluhan pasien, dan memang tidak layak digabung, makanya dipisah,” ujarnya, Senin kemarin.
Ditanya tentang rentang waktu penggabungan kedua poliklinik, Arief Rahman mengaku tak tahu pasti. Pasalnya, semakin lama risiko tertular penyakit paru pada pasien yang menjalani terapi di poliklinik tersebut jua semakin tinggi
“Berapa tahun kedua poli digabung, saya juga kurang tahu tahu pastinya. Tapi mungkin kurang lebih empat tahun,” kata Arief Rachman. (to/klik)






































