Rabu, Juni 3, 2026
BerandaKalselEmpat Strategi Disdikbud Kembalikan IPK Kalsel Yang Turun

Empat Strategi Disdikbud Kembalikan IPK Kalsel Yang Turun

klikkalimantan.com, BANJARBARU – Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) turun beberapa tahun terakhir. Diketahui, berdasarkan hasil evaluasi pada 2024 – 2025, IPK Kalsel berada pada angka 29,5 poin. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional sebesar 31 poin.

Menegnai hal itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel, Abdul Rahim melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Eddy Suwarto menyebut, penurunan IPK tersebut dipengaruhi oleh lambatnya akselerasi pembangunan kebudayaan daerah.

“Berdasarkan data tahun sebelumnya, ada tiga dimensi yang poinnya masih kurang. Yakni dimensi ekonomi budaya, ekspresi budaya, dan pendidikan,” kata Eddy, Selasa (2/6/2026) di Banjarbaru.

Dari hasil evaluasi tersebut, kata Eddy, menjadi dasar pihaknya menyusun berbagai langkah percepatan pembangunan kebudayaan yang berorientasi pada inklusivitas dan keberlanjutan. Tujuannya, meningkatkan kembali IPK.

Dipaparkan Eddy, Disdikbud Kalsel telah merumuskan empat langkah strategis. Pertama, penguatan kelembagaan melalui pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah yang bertugas memberikan rekomendasi kepada Gubernur terkait pengembangan seni dan budaya dalam program pembangunan daerah. Peningkatkan tipologi museum dari Tipe B menjadi Tipe A dilakukan guna memperkuat tata kelola serta birokrasi pengelolaan museum.

Langkah kedua, lanjutnya, adalah memperkuat kolaborasi program dengan melibatkan mahasiswa, sekolah, komunitas seni, serta menjalin sinergi dengan Badan Pengelola Geopark Meratus. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah menghadirkan Geopark Corner sebagai ruang komunikasi dan kolaborasi bagi para pegiat seni dan budaya.

“Kita juga akan berkolaborasi dengan Badan Pengelola Geopark Meratus dan menyiapkan Geopark Corner sebagai wadah para pegiat seni dan budaya bertukar pikiran agar program yang kita siapkan bisa berjalan secara inklusif,” kata Eddy.

Strategi ketiga, berupa revitalisasi sarana dan prasarana museum untuk meningkatkan kualitas layanan dan menarik kembali minat masyarakat berkunjung. Upaya ini dilakukan setelah angka kunjungan museum di Kalsel mengalami penurunan dalam beberapa tahun terkakhir.

Terakhir, kata Eddy, adalah pembangunan Banua Culture Hub serta penyusunan ensiklopedia budaya berbasis data spasial. Program ini bertujuan menyediakan ruang ekspresi bersama sekaligus memperkuat pendataan pelaku dan lembaga seni secara valid dan berbasis bukti.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan kebudayaan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dan pelaku budaya di daerah.

“Esensinya adalah inklusivitas dan keberlanjutan. Kita akan melakukan refocusing kegiatan yang sebelumnya bersifat eksklusif menjadi program yang merangkul semua elemen. Kami berharap pemicu perkembangan budaya lahir dari bawah. Jika tidak tumbuh dari bawah, maka tidak akan berkelanjutan,” kata Eddy. (to/klik)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments