Kamis, Agustus 13, 2026
BerandaDPRD BanjarmasinSungai Menyusut dan Buntu, DPRD Banjarmasin Desak Pemko Bertindak: Jangan Hanya Keruk...

Sungai Menyusut dan Buntu, DPRD Banjarmasin Desak Pemko Bertindak: Jangan Hanya Keruk Hulu, Hilir Harus Dibuka

klikkalimantan.com, BANJARMASIN — Persoalan klasik terkait penanganan aliran sungai di Kota Banjarmasin kembali menjadi sorotan. Sejumlah anak sungai yang menjadi bagian penting sistem tata air kota dinilai terus mengalami penyusutan, pendangkalan, bahkan sebagian alirannya terputus dan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah Sungai Pasar Rambai di Jalan Djok Mentaya, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Berdasarkan catatan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin, lebar sungai tersebut kurang lebih mencapai lima meter. Namun, kondisi di lapangan dinilai tidak lagi sesuai dengan catatan tersebut karena badan sungai mengalami penyempitan.

Menurut Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Muhammad Ridho Akbar, persoalan sungai tidak boleh hanya dilihat dari sungai-sungai besar atau lokasi tertentu yang selama ini menjadi perhatian pemerintah.

Ridho menegaskan, keberadaan anak-anak sungai juga memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran sistem drainase dan pengendalian genangan di Kota Banjarmasin.

“Kita tidak boleh berfokus pada satu titik, yaitu yang di depan Stadion 17 Mei. Kita juga harus melihat sungai-sungai kecil yang aliran airnya tidak mengalir normal, bahkan ada yang buntu,” tandasnya.

Ridho menilai, kondisi Sungai Pasar Rambai perlu mendapat perhatian khusus dari Pemko Banjarmasin melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Komisi III DPRD Banjarmasin, lanjutnya, berencana turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi eksisting sungai tersebut.

“Kita berharap Sungai Pasar Rambai mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota melalui Dinas PUPR. Nanti Komisi III sekalian akan turun ke lapangan melihat kondisi eksisting Sungai Pasar Rambai tersebut,” ujarnya.

Ridho mengingatkan, persoalan sungai di Banjarmasin tidak cukup hanya ditangani dengan pengerukan. Pemerintah juga harus memastikan aliran air dari hulu hingga hilir tetap terhubung. Sehingga fungsi sungai sebagai jalur aliran air tidak terputus.

Hal itu juga disorotnya terkait Sungai di Jalan Jafri Zamzam yang saat ini tengah dilakukan pengerukan. Ia berharap Pemko Banjarmasin dapat memikirkan penataan kawasan secara menyeluruh, termasuk keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dinilai menjadi salah satu persoalan dalam konektivitas aliran sungai.

“Untuk masalah sungai yang ada di Jalan Jafri Zamzam yang sedang dilakukan pengerukan, kita berharap Pemko bisa memikirkan agar keberadaan SPBU bisa dipindah. Sehingga aliran Sungai Jafri Zamzam bisa terhubung kembali ke Sungai Teluk Dalam atau Sungai Soetoyo S,” katanya.

Menurut Ridho, kondisi tersebut perlu dikembalikan seperti fungsi awalnya. Sebab, berdasarkan kondisi sebelumnya, kawasan tersebut masih memiliki konektivitas aliran sungai dan bahkan terdapat jembatan yang melintasi aliran tersebut.

“Dulunya tidak buntu, bahkan ada jembatan. Kita membersihkan dari hulunya sementara hilirnya buntu, ini kan lucu,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta penanganan sungai dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya pada bagian yang terlihat bermasalah. Setelah dilakukan pengerukan, pemerintah harus memastikan aliran air dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya.

Ridho juga menyoroti kondisi sungai di kawasan Jalan Yos Sudarso hingga Pelabuhan Trisakti. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dikoordinasikan dengan pihak Balai Sungai agar konektivitas aliran air dapat dikembalikan.

“Sungai yang ada di Jalan Yos Sudarso hingga Pelabuhan Trisakti bisa dikoordinasikan dengan Balai Sungai, agar aliran sungai kembali seperti semula. Sehingga tidak terjadi lagi genangan akibat banjir rob di wilayah sekitarnya,” jelasnya.

Ia menilai, persoalan aliran sungai harus menjadi bagian penting dalam kebijakan penataan Kota Banjarmasin. Terlebih, sebagian sungai berada di kawasan padat aktivitas masyarakat dan sentra perekonomian.
Sungai Pasar Rambai, misalnya, berada di kawasan tengah kota yang dikenal sebagai salah satu kawasan bisnis. Karena itu, menurut Ridho, penanganannya membutuhkan komunikasi dua arah antara pemerintah dan para pelaku usaha yang berada di sekitar aliran sungai.

“Terkait Sungai Pasar Rambai, tentunya wilayah itu berada di tengah kota dan notabene merupakan sentra bisnis. Perlu ada komunikasi dua arah antara pengusaha dan pemerintah. Bagaimana agar aliran air sungai bisa kembali normal,” tuturnya.

Ia berharap seluruh pihak tidak melihat sungai hanya sebagai bagian dari kawasan permukiman atau aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai infrastruktur alami yang memiliki fungsi penting dalam sistem tata air kota.
“Paling tidak aliran air lancar, tidak buntu atau tersumbat,” pungkas Ridho.(sin/klik)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments