Panik Mencari Pengungsian, Banjir 2006 Terulang

klikkalimantan.com, MARTAPURA – Ketinggian air di wilayah terendam banjir di Kabupaten Banjar terus bertambah. Terus bertambah, bahkan begitu cepat. Hujan yang tak henti mengguyur sejak Rabu (13/1/2020) siang, menjadi salah satu pemicu peningkatan drastis ketinggian air.

Dari pantauan klikkalimantan.com di sejumlah lokasi terendam banjir. Ketinggian air meningkat drastis sejak sekitar pukul 23.00. “Padahal sekitar pukul sepuluh, belum seberapa,” kata Zainuddin, salah seorang warga Kampung Jawa Laut, Martapura.

Tak ayal, kondisi tersebut membuat warga panik. Warga yang semula masih tetap bertahan di rumah memutuskan mengungsi ke tempat yang dirasa masih aman meski dalam kondisi diguyur hujan lebat. Salah satunya ke Mushala Da’watul Haq di desa setempat.

“Melihat ketinggian air yang begitu cepat bertambah, tidak mungkin lagi untuk bertahan di rumah,” kata Antung Irin, warga Desa Kampung Jawa Laut yang lain.

Kondisi banjir saat ini mengingatkannya pada banjir besar di 2006. Bahkan menurutnya lebih parah. Karena 2006 ia dan warga lainnya masih tetap bertahan di rumah. “Kejadiannya hampir sama. Malam hari seperti ini warga panik,” kata Antung Irin.
Panik dan terpaksa mengungsi juga dilakukan warga di Komplek Perumahan Cabe Hijau, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Mataraman. Wati, salah seorang warga setempat mengatakan, ketinggian air yang terus bertambah dan merendam hingga jendela rumah, memaksa ia dan puluhan warga lain mencari tempat aman.

“Pernah banjir besar tapi hanya merendam hingga ketinggian lantai rumah. Sekarang, lebih parah. Kami terpaksa mengungsi,” kata Wati.

Sebuah tenda terpal didirikan warga komplek sebagai tempat pengungsian. Jaraknya sekitar 50 meter dari komplek perumahan. Ironisnya, tenda terpal yang didirikan terlalu kecil untuk menampung seluruh warga komplek. “Sama sekali belum ada bantuan,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami warga di Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul. Bahkan lebih parah. Pasalnya warga mesti berjibaku di tengah banjir dalam kondisi gelap gulita. Aliran listrik di desa tersebut dipadamkan sejak sehari sebelumnya oleh pihak PLN.

Menurut Anang Syahrani, salah seorang warga setempat. Kondisi ini mengingatkannya pada banjir 2006 lalu. “Sama dengan 2006 lalu. Warga terpaksa mengungsi ke tempat lebih tinggi karena tak mungkin lagi bertahan di rumah,” katanya. (to/klik)

 

 

Advnativ