Di Tengah Keterpurukan Harga Karet, Petani Beralih Tanam Sereh Wangi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Sejumlah petani di Gunung Balai, Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan sedang mengolah lahan untuk ditanami sereh wangi. (foto: to/klik)

KLIKKALIMANTAN.COM –  Harga karet di tingkat petani yang tak kunjung membaik beberapa tahun terakhir, memaksa sejumlah petani di Kabupaten Banjar berangsur beralih menanam komoditi lain.

Seperti yang dilakukan Hamsani, petani di Gunung Balai, Desa Pingaran Ulu RT.09, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.  Sejak harga karet merosot di angka Rp 5.000, bapak satu anak ini memilih menanam sereh wangi –ada juga yang menyebutnya sereh merah karena pada pabian batang berwarna merah-.

Bersama beberapa petani lain yang tergabung dalam kelompok tani di desanya, Hamsani merombak puluhan hectare lahan yang semula ditanami karet, diganti dengan sereh wangi. “Sekitar 50 hektare. Beberapa hectare sudah ditanami dengan usia tanaman kurang lebih dua bulan,” kata Hamsani saat ditemui klikkalimantan.com, Jumat (8/2/2019).

Beralih ke sereh wangi, menurut Hamsani lantaran hasil panen daun tanaman berumpun berbatang merah ini dinilai lebih menjanjikan. Minyak hasil penyulingan daun sereh wangi, pangsa pasar yang belum banyak dilirik dan dilakoni petani, utamanya di Kabupaten Banjar.

“Bahkan, belum panen sudah ada yang datang dan siap menampung minyak daun sereh hasil penyulingan,” kata Hamsani diamini H Mahlan, salah seorang petani yang juga semangat mengembangkan budidaya sereh wangi.

Tentang keuntungan menanam sereh wangi lebih lanjut dipaparkan Hamsani. Pasca tanam bibit, sereh wangi sudah dapat dipanen perdana enam bulan kemudian. Selanjutnya, panen daun sereh dilakukan empat kali setahun, atau per tiga bulan sekali.

Per hectare lahan, lanjutnya, dapat menghasilkan seribu rumpun tanaman dengan produktifitas minimal 2 kilogram per rumpun tanaman, atau 20 ton per hectare dengan harga jual daun sereh sekitar Rp1.000 per kilogram.

Besar peluang pasar hasil penyulingan daun sereh wangi, diharapkan Hamsani gayung bersambut pihak pemerintah daerah. Karena diakuinya, untuk menuntaskan puluhan hectare lahan siap tanam, juga ketersediaan bibit, campur tangan pemerintah daerah melalui dinas terkaitnya begitu didamba para petani.

BACA JUGA :
Rasionalisasi Anggaran Imbas Pandemi, Dinas Perikanan Kabupaten Banjar Pertahankan Pendataan

“Selama ini murni upaya petani. Diharapkan kedepannya, ada bantuan, baik berupa dana maupun peralatan pendukung pengembangan sereh wangi karena memang menurut kami potensial dikembangkan,” kata Hamsani seraya menyemat harap.

Tentang keinginan petani mengganti karet dengan komoditi lain, Dondit Bhekti, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Banjar menilai, sebagai hal wajar di tengah keterpurukan harga karet.

Menurutnya, pemerintah tak dapat melarang jika memang para petani berniat mengganti karet dengan tanaman lain, komoditi perkebunan maupun tanaman pangan termasuk pengembangan tanaman sereh wangi.

Namun menurutnya, kelapa sawit mestinya dapat dijadikan alternatif para petani jika memang ingin mengganti karet. Namun di tengah harga tandan sawit yang juga mengalami tren penurunan, kelapa lebih tepat untuk mengganti karet.

Hanya saja, lanjut Dondit, pangsa pasar kelapa lebih kecil dibanding karet yang memang merupakan komoditi ekspor. “Memang pangsa pasar kelapa lebih banyak lokal. Lebih luas hanya antar pulau. Tapi jika petani memang ingin beralih, kelapa dapat dijadikan alternatif pengganti karet,” katanya. (to/klik)

Berita Terbaru

Scroll to Top