klikkalimantan.com, MARTAPURA – Ada sejak belasan, bahkan puluhan tahun silam, keberadaan Pasar Buah Astambul -dikenal juga Pasar Pisang Astambul- menjadi salah satu pasar tradisional ikonik yang ada di Kabupaten Banjar. Ikonik, karena pasar yang berlokasi di pinggir Jalan A Yani KM.48, Kecamatan Astambul menjadi pusat transaksi jual beli berbagai jenis buah hasil panen para petani, di antaranya jeruk, pepaya, sirsak, nanas, serta berbagai jenis buah lokal tahunan lainnya yang jarang ada di pasar yang lain; kasturi, ramania, mundar, dan jejantik.
Dikenal juga dengan sebutan Pasar Pisang, karena dahulu pasar ini pernah menjadi salah satu sentra perdagangan pisang di Kalimantan Selatan. Tak hanya menampung pisang hasil panen petani dari wilayah Kabupaten Banjar, tapi juga daerah Hulu Sungai sebelum diangkut ke pulau Jawa.
“Setidaknya hingga 2006. Karena setelah itu, produksi pisang di tingkat petani, terutama pisang jenis kepok sempat anjlok disebabkan serangan penyakit layu batang. Sekarang pisang juga masih ada, tapi tidak sebanyak dulu,” kata Yayan, salah seorang pedagang ditemui belum lama tadi.
Ikonik dan menjadi sentra perdagangan berbagai jenis buah varitas lokal, tapi sayangnya kondisi Pasar Buah Astambul saat ini sangat memprihatinkan. Puluhan pedang di pasar tersebut bertahan, dan terpaksa menjual dagangannya di bawah tenda yang sudah tak dapat disebut layak pakai. (Baca: https://klikkalimantan.com/compang-camping-pedagang-pasar-buah-astambul-terabaikan/)
Mengenai kondisi tersebut, Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Bauntung Batuah, Rusdiansyah yang baru bisa ditemui sehari setelah berita tersebut tayang mengatakan, pihaknya tak menampik kondisi tenda tempat bejualan pedagang di Pasar Buah Astambul sudah tak layak lagi digunakan untuk berjualan.
Dikatakan Rusdi, pihaknya sudah dua kali melakukan penggantian tenda di pasar tersebut. “Kami memahami dan sudah melihat langsung kondisi tempat berjualan para pedagang di Pasar Pisang Astambul. Saat ini, kondisinya memang sudah tidak layak lagi untuk digunakan,” kata Rusdi, Rabu (26/8/2026).
Karena itu, kata Rusdi, saat ini pihaknya telah menyusun rencana untuk menyiapkan tempat berjualan yang lebih representatif bagi para pedagang di Pasar Buah Astambul. Termasuk rencana pembangunan permanen los pasar dengan pola menggandeng pihak ketiga alias investor.
“Kami berharap, para pedagang bisa bersabar. Yang pasti kami terus berupaya untuk mengakomodir dan memberikan yang terbaik untuk para pedagang di Pasar Buah Astambul,” kata Rusdi yang juga menyebut sedang menyiapkan pola lain pembangunan los pasar menggunakan dana Coorparate Social Responsibility (CSR) sejumlah perusahaan.
Menurutnya, menggandeng investor, atau melobi perusahaan pemilik dana CSR dilakukan lantaran untuk mendirikan bangunan permanen di lokasi pasar tersebut, tak mungkin dilakukan menggunakan kucuran dana dari pemerintah; dari Kementerian Perdagangan misalnya.
Penyebabnya, kata Rusdi, akan kembali terbentur ke persoalan lama, yakni ketersediaan lahan. “Sebelum akhirnya dipasang tenda, Pasar Buah Astambul sempat akan dibangun permanen menggunakan dana dari Kementerian Perdagangan. Tapi batal karena terbentur aturan sempadang sungai dan garis sempadan jalan,” katanya. (to/klik)






