Compang-camping, Pedagang Pasar Buah Astambul Terabaikan

MIRIS - Miris, kondisi tenda di Pasar Buah Astambul yang sudah hancur dan tak layak digunakan. di tengah kondisi itu, puluhan pedagang merasa terabaikan . (foto: to/klik)

klikkalimantan.com, MARTAPURA – Miris, puluhan pedagang di Pasar Buah Astambul -banyak juga yang menyebutnya Pasar Pisang- berjualan di bawah tenda dengan kondisi memprihatinkan. Bolong, sobek, compang- camping, dan sudah tak layak pakai.

Yayan, salah seorang pedagang mengungkapkan, kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Meski demikian, tak banyak yang dapat dilakukan para pedagang. Sekadar untuk meminimalir dampak; panas di musim kemarau dan kuyup saat musim penghujan, para pedagang hanya melapisinya dengan terpal, sebagian ad ayang menutupinya dengan atap daun rumbia.

Itu pun tak bertahan lama. Karena menurut pria yang berjualan jeruk di pasar tersebut, dalam hitungan bulan terpal-terpal yang mereka pasang menyusul compang-camping. “Paling lama tiga bulan. Karena kepanasan dan hujan, terpal cepat hancur,” kata Yayan, Senin (16/8/2026).

Sebuah upaya yang mestinya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, dalam hal ini Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Bautung Batuah (PBB). Bukan tanpa alasan. Karena untuk dapat berjualan di sana, ada retribusi yang mereka bayarkan.

Dikatakan Yayan, per tahun, para pedagang harus membayar sewa tenda sebesar Rp200 ribu. Selain ongkos sewa tenda tersebut, pedagang juga harus membayar beberapa retribusi harian, totalnya Rp5.000.

“Ada retribusi untuk kebersihan dan beberapa retribusi lain. Totalnya Rp5.000 per hari. Tapi kami tidak pernah diberi karcis retribusinya,” kata Yayan sembari menyebut jumlah tenda di pasar tersebut kurang lebih 30 unit.  “Itu belum termasuk pedagang yang berjualan kaki lima di luar ten” imbuhnya

Di tengah kondisi itu, Yayan dan puluhan pedagang lain merasa terabaikan. Karena itu ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Terlebih lagi, pasar yang berada di pinggir jalur utama A Yani ini sudah puluhan tahun ada. Bahkan dahulu, Pasar Buah Astambul pernah menjadi sentra perdagangan pisang di Kalimantan Selatan.

“Dulu, mayoritas pisang dari daerah Hulu Sungai terkumpulnya di sini sebelum dikirim ke pulau Jawa. Mudah-mudahan segera ada perhatian dan penataan dilakukan pemerintah. Karena jika dibiarkan begini saja, bukan tidak mungkin lama kelamaan pasar ini mati,” kata Yayan.

Mengenai keluhan para pedagang di pasar pisang Astambul, beberapa kali upaya konfirmasi pada pihak Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Bauntung Batuah sudah dilakukan. Namun hingga berita ini ditayangkan tidak ada jawaban. (to/klik)

Advnativ