Aktivis BSI Jelaskan Manfaat TPSS Kepada Warga

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

klikkalimantan.com, MARTAPURA – Komisi III DPRD Kabupaten Banjar menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), Camat Martapura, Lurah Jawa, dan Lurah Murung Keraton, guna menanggulangi masalah penolakan warga Kelurahan Jawa dan Desa Tunggul Irang terhadap proyek pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) di lahan eks Aula Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Intan Martapura beberapa waktu lalu.

RDP yang dipimpin Irwan Bora selaku Ketua Komisi III DPRD tersebut juga dihadir perwakilan dari Kota Tanpa Kumuh (KotaKu) serta warga Desa Tunggul Irang dan Kelurahan Jawa.

Usai RDP, Lurah Sekumpul, Gusti Marhusin, yang hadir sebagai Aktivis Bank Sampah Indonesia (BSI) mengatakan, munculnya penolakan pembangunan TPS3R kemungkinan dilatarbelakangi kurangnya sosialisasi.

“Karenanya, masyarakat hingga saat ini belum bisa memahami bagaimana sebenarnya fungsi TPS3R tersebut. Hal ini pun diakui pihak dinas terkait,” katanya kepada sejumlah awak media, Rabu (1/12/2021).

Gusti Marhusin menyebutkan, pihaknya bersama instansi terkait lainnya telah memberikan penjelasan bagaimana cara mengelola sampah yang semula dianggap sebagain orang merupakan musibah, jijik, bau, dan lain sebagainya, menjadi lebih berharga.

“Nampaknya, warga pun mulai sedikit memahami. Jadi, kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yakni sampah merupakan suatu berkah, bukan lagi sebuah musibah. Asalkan dikelola dengan baik. Sampah organik misalnya, dapat kita manfaatkan,” ucapnya.

Gusti Marhusin berharap, kedepannya, gerakan pilah sampah seperti yang telah dilakukan pihak Sekumpul juga dapat diadopsi TPSS Air Santri dari program KotaKu yang merupakan TPS kawasan.

“Seperti kita ketahui, Sekumpul pun perlu puluhan tahun untuk memaksimalkan gerakan pilah sampah dari rumah. Mudah-mudahan perjuangan dan pengalaman Sekumpul ini juga dapat diadopsi TPSS yang berada di perbatasan Desa Tunggul Irang dan Kelurahan Jawa. Terlebih masyarakat mulai memahami dan meminta difasilitasi pada pertemuan di lingkungan warga selanjutnya,” tutupnya.(zai/klik)