Selasa, April 7, 2026
BerandaBalangan‘Ekpedisi Gerakan Buku Meratus II’, Menyebarluaskan Literasi di Kaki Pegunungan Meratus

‘Ekpedisi Gerakan Buku Meratus II’, Menyebarluaskan Literasi di Kaki Pegunungan Meratus

klikKalimantan.com, PARINGIN – Sabtu sore, di pekan pertama April yang gersang akibat debu jalan hauling pertambangan, sekelompok pemuda dan mahasiswa  melintasi kawasan perbukitan Meratus. Nekat, kata yang tepat untuk menggambarkan kegiatan mereka lakukan. Ini karena rute yang di lalui begitu curam hingga menukik di sebagian titik jalur yang mereka lintasi.

Mereka tergabung dalam ‘Ekspedisi Gerakan Buku Meratus II’ bertolak menuju tempat anak-anak Dusun Ambatunin, Desa Uren, Kecamatan Halong, Balangan untuk merajut asa demi masa depan lebih baik, dengan misi menyebarluaskan literasi di kawasan kaki Meratus.

Misi yang di prakarsai Forum Gerakan Buku Meratus (GBM) ini melibatkan Mahasiswa Universitas Sapta Mandiri juga yang berasal dari Kota Banjarmasin, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) dan BEM Universitas Ahmad Yani Banjarmasin.

Tidak mudah mengakses lokasi dusun itu, dari pusat kota Paringin memerlukan perjalanan hingga 3 jam, termasuk melintasi jalan hauling milik PT Jhonlin Group menuju titik terakhir yang dapat di akses menggunakan kendaraan. Kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki hingga lebih dari 2 jam lebih bagi mereka.

Sepanjang berjalan kaki, mereka disajikan pemandangan yang memanjakan mata, yakni rimbunnya hutan perbukitan yang mereka lintasi. Tak jarang mereka di buat takjub oleh medan yang belum pernah terbayang oleh sebagian dari mereka, bahkan sebagian waktu tempuh mereka di temani terangnya cahaya rembulan.

Usai tiba di lokasi sekitar pukul delapan malam, tim berbenah dan memasak untuk makan malam yang sudah lumayan larut, pukul sebelas malam lebih. Meski dengan menu hidangan seadanya mereka tetap menyantap untuk mengisi energi lagi usai terkuras di perjalanan.

Adapun untuk bangunan sekolah itu, terdiri dari 2 ruang kelas dan bangunan yang di peruntukan sebagai kantor, di mana setiap bangunannya terpisah satu sama lain.

Minggu paginya, mereka di buat takjub dengan pemandangan perbukitan dan pemukiman warga setempat, karena dari lokasi sekolah tempat mereka menginap itu berada persis di puncak bukit sekitar.

Penat dan lelah seakan terbayar tuntas, tatkala mereka mulai menjumpai siswa yang memang di minta berhadir ke sekolah di hari itu. Siswa-siswi di sekolah itu hanya berjumlah 13 orang dan terdiri dari berbagai jenjang usia.

Sebagai contoh, Lana, siswi kelas 6 Sekolah Dasar Kecil (SDK) Ambatunin ini berusia 20 tahun tetap bersemangat untuk menempuh pendidikan. Ia mengaku meski di usianya sekarang ia tetap ingin bersekolah dan menuntaskan hingga ke sekolah menengah lanjutan.

Dari lana siswi berpenampilan dewasa itu, kami memetik satu arti yang begitu bermakna. Pendidikan sejatinya begitu berarti tidak peduli oleh siapa, di mana dan walau bagaimana, siswa-siswi seperti dia lah yang membuat GBM ada dan terus melakukan upayanya keluar masuk kawasan terpencil.

Relawan Ekspedisi, selain menyalurkan donasi berupa perlengkapan sekolah juga melakukan interaksi bersama para siswa-siswi seperti bermain dan kuis. Sedangkan untuk masyarakat Relawan dari Mahasiswa UMB melakukan cek  kesehatan gratis, berupa cek tekanan darah, kolesterol, asam urat dan gula darah.

Dalam wawancara singkat, mereka di buat heran dengan sejumlah pernyataan dari para siswa, terkait kondisi sarana dan prasarana menuju ke sekolah itu.

Di dusun ini tidak terdapat akses internet maupun seluluer maupun internet, untuk penerangan hanya mengandalkan solar sel dari tenaga cahaya matahari. Tercatat di dusun ini hanya terdiri dari belasan KK, sedangkan di sekitar sekolah hanya ada 6 rumah warga.

Lelu Dinata, Kepala Sekolah SDK Ambatunin menceritakan bagaimana perjuangan mereka para tenaga pengajar dalam mengabdikan diri untuk mendidik para siswa sekolah itu.

Menurutnya, mengajar siswa-siswi adalah sebagai tanggung jawab bagi mereka, bukan hanya sekedar pekerjaan sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) saja. Beratnya Medan yang di tempuh adalah suatu pemantik motivasi baginya untuk mencerdaskan generasi penerus.

“Karena tidak ada akses komunikasi, jika kita sudah berjanji dengan para siswa akan masuk dan mengajar, maka apapun kondisinya harus tiba di lokasi,” ucapnya, Selasa (7/4/2026).

Jika di lihat dari lokasinya, memang berat rasanya sekolah ini untuk mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah setempat, namun sudah barang tentu dinas terkait sudah berupaya sedemikian rupa untuk memenuhi keperluan sekolah itu.

Terlepas dari itu, semestinya dengan adanya aktivitas pertambangan yang tidak jauh dari sekolah itu, mestinya mereka tidak luput perhatian oleh perusahaan pertambangan tersebut baik dalam program ataupun berupa donasi dan sejenisnya.

Kami sejatinya hanya dapat berharap jika dikemudian hari setidaknya akses sarana dan prasarana menuju sekolah itu bisa di bangun agar lebih layak, baik oleh pemerintah setempat maupun pihak lain yangpeduli dengan kondisi siswa-siswi dan masyarakat di dusun itu. (rul/klik)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments